Coretan Mahasiswa: Dari Saku Yang Tipis, Lahirlah Hati Yang Lapang
Sebagai mahasiswa, saya tahu betul bagaimana rasanya hidup dengan uang saku yang terbatas. Setiap rupiah harus dihitung, setiap pengeluaran dipertimbangkan. Kadang ada rasa khawatir: cukupkah untuk makan, untuk ongkos, untuk membeli buku? Namun di tengah keterbatasan itu, saya belajar bahwa berbagi tidak selalu menunggu saat kita berkelimpahan.
Berbagi bisa sesederhana membagi catatan kuliah kepada teman yang kesulitan, menemani sahabat yang sedang tertekan, atau sekadar menyisihkan sedikit dari uang makan untuk membantu teman yang benar-benar membutuhkan. Nilainya mungkin kecil, tetapi dampaknya bisa besar. Seperti kata Mother Teresa, “Jika Anda tidak bisa memberi makan seratus orang, maka beri makan satu orang.” Dari keterbatasan, saya belajar bahwa berbagi adalah soal hati, bukan soal jumlah.
Saya teringat kisah lima roti dan dua ikan yang dibagikan seorang anak kecil, lalu mencukupi ribuan orang. Kisah itu mengajarkan bahwa berbagi, meski tampak sederhana, bisa menghadirkan keajaiban. Dan saya percaya, keajaiban itu masih mungkin terjadi hari ini, bahkan melalui tangan seorang mahasiswa dengan uang saku pas-pasan.
Nelson Mandela pernah berkata, “Waktu selalu tepat untuk melakukan hal yang benar.” Berbagi adalah salah satu hal benar itu. Ia mungkin tidak mengubah dunia seketika, tetapi ia bisa mengubah hari seseorang, bahkan hidup seseorang. Dan di situlah letak keajaibannya.
Berbagi membuat saya merasa lebih kaya, bukan dalam arti materi, tetapi dalam rasa syukur. Bahwa meski hidup sederhana, saya tetap bisa memberi arti. Bahwa meski terbatas, saya tetap bisa menjadi saluran berkat. Dan mungkin, itulah cara paling indah untuk merayakan kemanusiaan: saling menguatkan, saling menopang, saling berbagi.
Gambar oleh Anja dari Pixabay











No Comments