KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Regenerasi Kepedulian dalam Setiap Beasiswa

Opini: Regenerasi Kepedulian dalam Setiap Beasiswa

Kalau dipikir-pikir, sebuah program beasiswa itu sebenarnya bukan cuma soal uang. Ada nilai yang terus diwariskan di baliknya, yaitu kepedulian. Nilai ini tidak berhenti di satu angkatan aja, tetapi terus jalan dari satu penerima beasiswa ke penerima beasiswa berikutnya. Beasiswa KAMAJAYA merupakan salah satu contoh yang cukup jelas soal ini, bagaimana kepedulian bisa terus hidup dari tahun ke tahun.

Konsep “URUNAN” yang dipakai program beasiswa ini cukup menarik, karena menunjukkan bahwa bantuan tidak harus datang dalam jumlah besar supaya bisa berdampak besar. Dari kontribusi kecil yang dilakukan bersama-sama dan rutin, justru lahir sesuatu yang berarti sekali untuk mahasiswa yang membutuhkan. Ini juga sekaligus mematahkan anggapan kalau membantu itu cuma bisa dilakukan orang yang punya kelebihan materi. Semua orang, sesuai kemampuannya masing-masing, sebenarnya punya ruang untuk ikut terlibat.

Yang menarik lagi, Penerima Beasiswa KAMAJAYA di sini tidak cuma jadi pihak yang menerima terus diam. Banyak yang aktif ikut kegiatan komunitas, menyumbang waktu dan tenaga untuk kegiatan bersama, bahkan setelah lulus dan kerja pun masih tetap terlibat, kadang jadi donatur juga. Pola seperti ini yang membuat program beasiswa ini tidak berhenti menjadi bantuan sesaat, tapi berubah jadi semacam gerakan yang terus berjalan sendiri.

Hal semacam ini penting dijaga, karena kuliah masih jadi sesuatu yang mahal untuk banyak keluarga di Indonesia. Jika tidak ada komunitas yang mau berbagi secara sukarela, tentunya tidak sedikit mimpi mahasiswa yang harus kandas di tengah jalan karena masalah biaya. Alumni yang kembali lagi menjadi donatur menunjukkan jika pendidikan yang mereka dapat dulu bukan cuma soal gelar, tapi juga tanggung jawab untuk buka jalan untuk yang setelahnya.

Jadi sebenarnya, keberlanjutan program beasiswa itu tidak ditentukan dari seberapa besar dana yang terkumpul, tapi dari seberapa konsisten nilai kepeduliannya terus diwariskan. Selama itu masih dijaga, akan terus ada mahasiswa yang bisa mendapat kesempatan untuk lanjut kuliah, sekaligus tumbuh jadi pribadi yang nanti siap meneruskan kepedulian yang sama ke generasi berikutnya.

Dari sisi saya sendiri, melihat langsung bagaimana Beasiswa KAMAJAYA berjalan membuat saya sadar jika kepedulian itu sebenarnya tidak butuh momen besar untuk dimulai. Terkadang hanya dari obrolan santai antar sesama penerima beasiswa, saling cerita terkait kuliah, kerjaan, atau rencana ke depan, muncul rasa keterikatan yang membuat orang mau kembali lagi untuk membantu, bukan karena diwajibkan, tapi karena merasa pernah dibantu duluan. Rasa “pernah di posisi itu” ini yang menurut saya jadi bahan bakar utama kenapa program semacam ini bisa bertahan lama.

Yang membuat semakin menarik, keterlibatan itu tidak melulu soal uang. Ada yang membantu menjadi mentor untuk adik tingkat, ada yang sekadar aktif di grup untuk memberikan informasi lowongan, ada juga yang rela meluangkan waktu untuk menjadi panitia di acara-acara internal. Semua bentuk kontribusi itu sama-sama penting, karena pada akhirnya yang dibangun bukan hanya dana abadi, tapi juga jaringan orang-orang yang saling peduli satu sama lain.

Tentu saja, untuk program seperti ini bisa terus berjalan, dibutuhkan juga kesadaran dari penerima manfaat untuk tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri. Wajar kalau di awal fokus utama adalah menyelesaikan kuliah dan meringankan beban orang tua, tapi ada baiknya juga mulai dipikirkan bagaimana caranya kelak bisa kembali berkontribusi, sekecil apa pun itu. Karena sejujurnya, siklus ini hanya bisa terus hidup kalau ada yang mau melanjutkan, bukan hanya menikmati.

Ke depannya, saya berharap semakin banyak mahasiswa yang merasa terhubung dengan nilai yang dibawa Beasiswa KAMAJAYA ini, bukan hanya sebagai penerima bantuan finansial, tapi juga sebagai bagian dari komunitas yang punya visi jangka panjang. Karena pada akhirnya, warisan paling berharga dari sebuah beasiswa bukan hanya ijazah yang berhasil diraih, tapi juga nilai kepedulian yang ikut terbawa dan terus ditularkan ke lingkungan sekitar.

Yogyakarta, 29 Juli 2026

Maria Ovie Hizkianti
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8

Image by Nattanan Kanchanaprat from Pixabay

No Comments

Post a Comment