KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Mengasah Tanggung Jawab dan Kepemimpinan Melalui Organisasi

Kisah Penerima Beasiswa: Mengasah Tanggung Jawab dan Kepemimpinan Melalui Organisasi

Perkenalkan, nama saya Gabriela Louisa Orlyn Anawang, mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta angkatan 2023. Selama menjalani perkuliahan, saya menyadari bahwa proses menjadi mahasiswa bukan hanya sekadar belajar di dalam kelas, tetapi juga mengenal diri sendiri melalui berbagai pengalaman di luar perkuliahan. Salah satu pengalaman yang paling berharga bagi saya adalah ketika dipercaya menjadi bagian dari pengurus Atma Crew Dance Community (ACDC) dan juga sebagai student staff KAA.

Awalnya, saya tidak membayangkan bahwa kedua pengalaman tersebut akan memberikan pengaruh besar dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa. Menjadi student staff saya anggap sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman bekerja sekaligus belajar bertanggung jawab. Sementara bergabung dalam kepengurusan ACDC berawal dari ketertarikan saya terhadap dunia tari dan keinginan untuk tetap aktif dalam komunitas yang saya sukai. Namun, setelah menjalaninya, saya justru mendapatkan lebih banyak pelajaran daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Sebagai student staff, saya mulai merasakan bagaimana rasanya memiliki tanggung jawab di luar kewajiban akademik. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, komunikasi yang harus dijalin, dan target yang perlu dicapai. Saya belajar bahwa sebuah pekerjaan tidak cukup dilakukan hanya ketika ada waktu luang. Ketika sudah menerima tanggung jawab, saya harus mampu mengatur waktu dan memastikan pekerjaan tersebut terselesaikan dengan baik. Hal ini tidak selalu mudah karena di saat yang sama saya juga harus menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa. Dari situ saya belajar bahwa kemampuan mengatur waktu bukanlah sesuatu yang langsung dimiliki, melainkan harus dilatih.

Menjadi student staff juga mengajarkan saya sikap profesional. Saya belajar berkomunikasi dengan lebih baik, teliti dalam bekerja, serta memahami bahwa sekecil apa pun tugas tetap memiliki tanggung jawab di dalamnya. Saya juga belajar untuk tidak takut bertanya ketika belum memahami sesuatu, karena bertanya jauh lebih baik daripada melakukan kesalahan akibat merasa harus bisa semuanya sendiri.

Di sisi lain, pengalaman sebagai pengurus ACDC memberikan pelajaran berbeda. Awalnya saya hanya fokus pada latihan dan penampilan, tetapi ketika dipercaya menjadi pengurus, saya mulai melihat komunitas dari sudut pandang yang lebih luas. Saya belajar bahwa sebuah organisasi tidak dapat berjalan hanya karena satu atau dua orang, melainkan membutuhkan kerja sama dari banyak pihak dengan karakter dan pemikiran yang berbeda. Dari situ saya belajar untuk lebih terbuka terhadap pendapat orang lain dan memahami bahwa bekerja dalam tim bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan bagaimana menemukan solusi bersama.

Pengalaman ini juga mengajarkan saya tentang kepemimpinan. Saya menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan hanya memberi arahan, tetapi juga mau terlibat, mau mendengarkan, dan bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Kedua peran ini—sebagai student staff dan pengurus ACDC—saling melengkapi. Saya belajar tanggung jawab secara profesional sekaligus kerja sama, komunikasi, dan kepemimpinan dalam komunitas.

Selain itu, saya juga belajar menghadapi tantangan pribadi, yaitu rasa kurang percaya diri. Ada saat ketika saya takut mengambil keputusan atau ragu apakah mampu menjalankan tanggung jawab. Namun, semakin sering saya berada dalam situasi tersebut, saya mulai menyadari bahwa saya tidak akan pernah tahu kemampuan diri jika tidak berani mencoba. Saya belajar bahwa menjalani banyak peran tidak selalu berarti harus sempurna. Ada kalanya saya melakukan kesalahan atau merasa lelah, tetapi dari setiap pengalaman selalu ada pelajaran berharga.

Pada akhirnya, pengalaman sebagai student staff dan pengurus ACDC bukan hanya menambah kegiatan dalam kehidupan perkuliahan, tetapi juga membantu saya menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan perlahan lebih percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri. Saya bersyukur pernah mendapatkan kesempatan menjalani kedua peran tersebut. Dari ruang kerja sebagai student staff hingga ruang komunitas bersama ACDC, saya belajar bahwa setiap kepercayaan yang diberikan adalah kesempatan untuk berkembang.

Saya mungkin masih memiliki banyak kekurangan dan harus belajar banyak hal. Namun, sekarang saya lebih percaya bahwa saya mampu berkembang selama berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan. Bagi saya, pengalaman-pengalaman inilah yang membuat perjalanan sebagai mahasiswa terasa lebih berarti. Saya tidak tahu pengalaman apa lagi yang akan saya jalani ke depannya, tetapi saya ingin membawa semua pelajaran ini bersama saya. Karena pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang saya lakukan selama menjadi mahasiswa, tetapi tentang siapa diri saya yang terbentuk dari setiap pengalaman tersebut.

Yogyakarta, 20 Agustus 2026

Gabriela Louisa Orlyn Anawang
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9

No Comments

Post a Comment