Kisah Penerima Beasiswa: Memeluk Kegagalan, Menemukan Jalan Baru
Perjalanan saya menuju bangku kuliah dimulai sejak masa SMA, ketika saya berhasil masuk dalam kuota siswa eligible untuk jalur SNMPTN. Dengan penuh harapan, saya memilih jurusan Arsitektur di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Jawa Timur. Namun, takdir berkata lain; saya ditolak. Tidak patah arang, saya melanjutkan perjuangan melalui tes berbasis komputer dengan pilihan jurusan yang sama di PTN berbeda, masih di provinsi yang sama. Hasilnya pun serupa, saya kembali ditolak. Berbagai jalur masuk lain terus saya coba, tetapi pintu-pintu tersebut tampaknya belum terbuka. Kegagalan beruntun itu akhirnya membawa saya pada keputusan besar: mengambil masa rehat (gap year) selama satu tahun.
Setelah satu tahun berselang, dengan idealisme dan impian yang tetap sama, saya kembali mencoba peruntungan di tes masuk PTN. Namun, kenyataan pahit kembali harus saya terima karena penolakan itu datang lagi. Di titik inilah, setelah berdiskusi mendalam dengan orang tua, saya memutuskan untuk mengambil arah baru dan memilih Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan jurusan yang tetap sama, yaitu Arsitektur. Melangkah untuk kali pertama ke dalam lingkungan pendidikan swasta memberikan pengalaman yang berbeda dan berkesan. Di sini, saya mendapatkan berbagai perspektif baru melalui cerita dan latar belakang teman-teman yang begitu beragam.
Selama masa perkuliahan, saya berkesempatan menimba ilmu dari para dosen yang merupakan ahli di bidangnya. Saya juga dikelilingi oleh teman-teman yang memiliki ambisi positif yang sama, yaitu menyelesaikan studi tepat waktu. Demi menyeimbangkan akademis dan organisasi, saya aktif terlibat dalam beberapa organisasi kemahasiswaan, kegiatan kepanitiaan, serta menjadi sukarelawan (volunteer). Langkah ini saya ambil tidak hanya untuk memenuhi poin SPAMA, melainkan juga untuk mengasah kapasitas kepemimpinan dan memperluas jaringan pertemanan.
Perjuangan tersebut mencapai puncaknya saat saya menginjak semester delapan, masa di mana saya harus menyelesaikan Studio Tugas Akhir. Setiap harinya, saya menghabiskan waktu selama sepuluh jam di ruang studio kampus, bergelut dengan rancangan, dan melewati dua tahap evaluasi ketat demi melangkah ke sidang pendadaran. Di tengah melelahkannya proses ini, saya sangat bersyukur atas kasih Tuhan yang dihadirkan melalui Ibu Dosen Pembimbing saya. Beliau membimbing dengan kombinasi kedisiplinan tinggi dan kebaikan hati yang luar biasa. Harapan serta kekuatan optimisme yang beliau salurkan melalui dukungan verbal menjadi bahan bakar bagi saya untuk terus melangkah maju dan memberikan kemampuan terbaik.
Di samping dukungan akademis, keberhasilan ini tidak luput dari peran besar orang tua, terutama Ibu saya. Beliau adalah sosok yang setiap hari menjadi pengingat dan ‘alarm’ hidup saya; yang selalu setia membangunkan saya di pagi hari, serta selalu hadir untuk memimpin doa bersama setiap kali saya akan menghadapi ujian. Saya juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada KAMAJAYA Scholarship yang telah meringankan langkah saya selama beberapa semester terakhir. Bantuan berupa pembayaran SPP tetap dan variabel sangat membantu kelancaran studi saya, sekaligus membuka kesempatan untuk memperluas relasi dengan teman-teman lintas jurusan dan angkatan. Melalui donatur dan KAMAJAYA Scholarship, saya haturkan ucapan syukur kepada Tuhan, karena atas kebaikan-Nya pulalah saya akhirnya dapat menyelesaikan studi di universitas ini dengan baik.
Lebih dari sekadar pencapaian akademis, perjalanan ini mengajarkan saya arti ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk mengambil keputusan besar dalam hidup. Kegagalan yang berulang kali saya alami justru menjadi batu loncatan untuk menemukan jalan yang lebih tepat bagi diri saya. Saya belajar bahwa setiap pintu yang tertutup sesungguhnya mengarahkan kita pada pintu lain yang lebih sesuai dengan rencana Tuhan.
Ke depan, saya berharap dapat mengabdikan ilmu yang saya peroleh di bidang arsitektur untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Saya ingin merancang karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga bermanfaat dan berkelanjutan bagi lingkungan. Selain itu, saya berkomitmen untuk terus mendukung program beasiswa seperti KAMAJAYA Scholarship, agar semakin banyak generasi muda yang memiliki kesempatan untuk mengejar pendidikan tinggi tanpa terbebani oleh keterbatasan finansial.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Setiap langkah yang saya tempuh, baik yang penuh luka maupun yang penuh syukur, telah membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih kuat. Semoga kisah ini dapat menjadi pengingat bahwa jalan menuju impian mungkin berliku, tetapi dengan ketekunan, doa, dan dukungan orang-orang terkasih, setiap mimpi tetap layak diperjuangkan.


Yogyakarta, 3 Juli 2026
Mawar Indah Sitanggang
Mahasiswa Program Studi Arsitektur UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9











No Comments