KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Gaya Hidup Sederhana di Tengah Kebiasaan Konsumtif

Opini: Gaya Hidup Sederhana di Tengah Kebiasaan Konsumtif

Kalau dipikir-pikir, sebuah program beasiswa itu sebenarnya bukan cuma soal uang. Ada nilai yang terus diwariskan di baliknya, yaitu kepedulian. Nilai ini tidak berhenti di satu angkatan aja, tetapi terus jalan dari satu penerima beasiswa ke penerima beasiswa berikutnya. Beasiswa KAMAJAYA merupakan salah satu contoh yang cukup jelas soal ini, bagaimana kepedulian bisa terus hidup dari tahun ke tahun.

Kemajuan teknologi serta media sosial telah mengubah cara hidup komunitas, khususnya di kalangan anak muda. Bermacam tren baru muncul hampir setiap hari, mulai dari mode, budaya makanan, hingga gaya hidup yang dianggap menarik untuk diikuti. Menurut pendapat saya, perubahan ini adalah sesuatu yang alami sebagai bagian dari kemajuan zaman. Akan tetapi, di balik keuntungan tersebut, timbul budaya konsumtif yang membuat banyak individu merasa perlu selalu mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman atau ketinggalan tren.

Sekarang, platform media sosial sering kali menunjukkan kehidupan yang tampak ideal. Banyak individu memperlihatkan barang-barang baru yang mereka miliki, lokasi yang mereka kunjungi, atau pengalaman yang mereka alami. Secara tidak sadar, itu bisa memengaruhi sudut pandang seseorang tentang kebahagiaan. Banyak orang yang pada akhirnya membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin tampil serupa dengan orang lain. Saya percaya, kebiasaan semacam ini bisa membuat individu lebih memprioritaskan pengakuan dibandingkan dengan kebutuhan yang sesungguhnya.

Sebenarnya, hidup sederhana tidak berarti hidup dalam keadaan serba kurang melainkan gaya hidup yang minimalis. Gaya hidup minimalis mengajarkan individu untuk dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan membeli barang yang benar-benar dibutuhkan, mengatur pengeluaran secara cermat, serta tidak mudah terpengaruh oleh tren sementara, seseorang dapat menjalani hidup yang lebih tenang dan terarah. Kesederhanaan juga memudahkan kita untuk lebih menghargai apa yang sudah dimiliki ketimbang terus mengejar apa yang belum tentu mendatangkan kebahagiaan.

Bagi mahasiswa, menjalani gaya hidup sederhana juga merupakan wujud tanggung jawab. Sebagian besar mahasiswa masih mengandalkan bantuan orang tua atau mempunyai sumber pendapatan yang minim. Karena itu, keterampilan mengelola keuangan sejak awal menjadi hal yang krusial. Saya percaya bahwa kebiasaan menyusun anggaran, menabung, dan menghindari pengeluaran yang tidak penting adalah tindakan kecil yang akan membawa keuntungan besar di masa mendatang. Dengan cara ini, mahasiswa dapat belajar berkehidupan sendiri sekaligus menyiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.

Selain mempengaruhi keadaan keuangan, cara hidup sederhana juga berdampak pada kesehatan mental. Saat seseorang tidak lagi terfokus pada perbandingan dengan orang lain atau merasa perlu mengikuti tren, ia akan lebih mudah merasa bahagia dan bersyukur. Kebahagiaan sekarang tidak ditentukan oleh jumlah barang yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan untuk menikmati hidup sesuai dengan keadaan dan potensi diri. Saya percaya, rasa syukur adalah salah satu faktor penting untuk menjalani hidup yang lebih harmonis.

Pada akhirnya, hidup sederhana bukanlah sebuah kemunduran, tetapi keputusan yang menggambarkan kedewasaan dalam memilih. Dalam situasi budaya konsumtif yang semakin mendominasi, setiap individu harus belajar mengatur keinginan dan menjadi lebih bijaksana dalam menetapkan prioritas. Saya percaya bahwa hidup yang minimalis dan sederhana namun penuh rasa syukur akan membawa ketenangan yang lebih berarti dibandingkan dengan hidup yang sekadar mengikuti tren yang senantiasa berubah.

Yogyakarta, 5 Agustus 2026

Gabriela Louisa Orlyn Anawang
Mahasiswa Program Manajemen UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9

Image by Gerd Altmann from Pixabay

No Comments

Post a Comment