KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: Dari KKN ke Lomba 17-an, Ternyata Libur Semester Tidak Selalu Berarti Libur

Coretan Mahasiswa: Dari KKN ke Lomba 17-an, Ternyata Libur Semester Tidak Selalu Berarti Libur

Bulan Agustus kali ini terasa sedikit berbeda bagiku. Setelah beberapa waktu sebelumnya sibuk menjalani KKN di Bali, akhirnya aku kembali ke rumah dan memasuki masa yang katanya paling menyenangkan bagi mahasiswa: libur semester. Tidak ada jadwal kuliah pagi, tidak ada tugas yang mengejar, dan untuk sementara waktu tidak perlu memikirkan presentasi atau ujian.

Awalnya aku berpikir, “Wah, akhirnya bisa istirahat.” Ternyata aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Belum lama menikmati suasana rumah, aku sudah mulai terlibat dalam persiapan lomba 17-an di desa. Mulai dari membantu mempersiapkan perlengkapan, berdiskusi tentang jenis perlombaan, sampai ikut memikirkan bagaimana supaya kegiatan tahun ini bisa lebih seru daripada tahun sebelumnya. Jadi, kalau ada yang bilang libur semester itu waktunya rebahan seharian, sepertinya teori itu tidak berlaku sepenuhnya untukku.

Lucunya, setelah sebulan lebih menjalani KKN di Bali, aku justru kembali merasakan suasana kebersamaan yang berbeda di kampung halaman. Kalau saat KKN aku belajar bagaimana berinteraksi dan bekerja bersama masyarakat di tempat orang lain, kali ini aku kembali menjadi bagian dari masyarakat di tempatku sendiri.

Ada sesuatu yang menyenangkan ketika melihat warga mulai sibuk mempersiapkan perayaan 17 Agustus. Anak-anak mulai membicarakan lomba yang akan mereka ikuti. Para pemuda mulai berkumpul untuk mempersiapkan kegiatan. Orang-orang mulai menghias lingkungan dengan bendera dan berbagai ornamen merah putih. Dan tentu saja, sebagai mahasiswa yang sedang libur, aku akhirnya ikut terseret ke dalam kesibukan itu.

Kalau dipikir-pikir, kehidupan mahasiswa memang penuh kejutan. Saat kuliah, aku sibuk dengan tugas dan ujian. Saat KKN, aku sibuk dengan program kerja dan kegiatan masyarakat. Ketika akhirnya libur semester, ternyata masih ada “tugas” lain yang menunggu: mempersiapkan lomba 17-an di desa.

Bedanya, kali ini tidak ada dosen yang memberikan nilai. Yang ada justru warga yang siap memberikan komentar kalau perlombaannya kurang seru.

Di tengah kesibukan itu, aku mulai menyadari sesuatu. Selama menjalani perkuliahan, aku sering berpikir bahwa belajar hanya terjadi di dalam kelas. Padahal ternyata, banyak hal justru aku pelajari ketika berada di luar kampus. KKN mengajarkanku bagaimana beradaptasi dengan masyarakat. Kehidupan di desa mengajarkanku tentang kebersamaan. Dan persiapan lomba 17-an kembali mengingatkanku bahwa hidup tidak selalu harus diisi dengan mengejar nilai dan pencapaian pribadi.

Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, berkumpul dengan orang lain, tertawa bersama, dan menikmati hal-hal sederhana. Apalagi setelah KKN, rasanya suasana seperti ini menjadi lebih bermakna. Selama KKN, aku datang ke suatu desa sebagai mahasiswa yang membawa program dan mencoba memberikan sesuatu kepada masyarakat. Sekarang, di kampung halaman sendiri, aku justru kembali merasakan bahwa menjadi bagian dari masyarakat bukan hanya tentang memberikan sesuatu, tetapi juga tentang ikut hadir dan mengambil bagian dalam kebersamaan.

Mungkin inilah salah satu cara sederhana bagiku untuk mengisi kemerdekaan. Bukan dengan melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi dengan ikut berkontribusi sesuai kemampuanku. Membantu mempersiapkan kegiatan desa, ikut meramaikan perlombaan, membantu anak-anak yang ingin ikut lomba, atau sekadar hadir ketika masyarakat sedang membutuhkan tenaga tambahan.

Kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan bukan hanya untuk dikenang setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan juga memberi kita kesempatan untuk belajar, berkembang, berkarya, dan hidup berdampingan dengan orang lain.

Sebagai mahasiswa, mungkin perjuanganku memang belum sebesar perjuangan para pahlawan.

Perjuanganku masih seputar mengejar IPK, menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, mencari pengalaman, memikirkan masa depan, dan sesekali berjuang melawan rasa malas. Tetapi dari semua itu, aku belajar bahwa setiap generasi punya bentuk perjuangannya masing-masing.

Dulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan. Sekarang, tugasku adalah mengisinya.

Mungkin dimulai dari belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan ilmu yang dimiliki untuk membantu orang lain, berani terlibat dalam kegiatan masyarakat, dan tidak lupa menikmati kebersamaan yang sering kali justru menjadi bagian paling berharga dari perjalanan hidup.

Jadi, kalau ada yang bertanya bagaimana libur semesterku tahun ini, jawabannya sederhana:

Aku memang sedang libur dari kuliah, tetapi ternyata belum libur dari perjuangan. Dari KKN di Bali, kembali ke rumah, lalu ikut mempersiapkan lomba 17-an bersama warga. Perjalanannya mungkin sederhana, tetapi justru dari hal-hal sederhana seperti inilah aku kembali belajar tentang arti kebersamaan, pengabdian, dan kemerdekaan.

Untuk sementara, sebelum semester baru dimulai dan tugas-tugas kembali berdatangan, biarlah aku menikmati kemerdekaan kecil ini. Merdeka dari deadline, meskipun hanya untuk sementara.

Image by Jan Vašek from Pixabay

No Comments

Post a Comment