KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: KKN Bali: Adat, Gotong Royong, dan Semangat Belajar

Kisah Penerima Beasiswa: KKN Bali: Adat, Gotong Royong, dan Semangat Belajar

Halo perkenalkan, nama saya Titania Eka Wulandari biasa dipanggil Eka. Saya merupakan mahasiswa Program Studi Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga akhirnya aku sampai di titik di mana kegiatan KKN itu tiba. Sejak awal semester, saya sudah merencanakan untuk mengikuti KKN di Luar Jawa. Proses untuk masuk di KKN Luar Jawa itu tidak gampang, karena memerlukan seleksi berkas dan wawancara untuk dilihat siapa yang layak untuk KKN ke Luar Jawa.

Pada awalnya, saat pengumuman itu tiba, saya tidak lolos untuk KKN di Luar Jawa. Saat itu saya sudah berusaha ikhlas dan berpikir tidak apa-apa jika akhirnya KKN di Jawa. Namun, keesokan harinya ada pengumuman tambahan mengenai peserta KKN di Luar Jawa, dan saya menjadi salah satunya. Singkat cerita, saya sangat senang bisa menjadi bagian dari KKN Luar Jawa karena dapat lebih mengenal budaya dan adat istiadat di tempat KKN nantinya.

Saya mendapatkan penempatan KKN di Bali, tempat yang adat dan budayanya sangat kental dan sakral. Sebelum diterjunkan, saya mengikuti pembekalan selama dua bulan untuk mempersiapkan berbagai keperluan program kerja (proker) selama KKN nanti. Selain mempersiapkan proker sebelum keberangkatan ke Bali, sebelumnya diadakan presentasi proker di depan ADPL dan DPL yang nantinya proker tersebut akan dilaksanakan saat KKN berlangsung. Saya sendiri merasakan proses sebelum KKN itu sangat panjang, namun sangat dibutuhkan agar persiapannya benar-benar matang sehingga saat tiba di lokasi, saya dan kelompok saya sudah memiliki berbagai rencana ke depan.

Setelah kami tiba di Bali, tepatnya di lokasi KKN kami, yaitu Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, kami disambut hangat oleh induk semang dan juga Kepala Desa Takmung. Saat menjalankan proker di sana, kami merasakan langsung bagaimana warga desa saling tolong-menolong satu sama lain. Kami juga diajak mengikuti berbagai acara adat setempat, seperti Odalan, Calon Arang, Ngaben, dan lainnya. Acara-acara tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, karena saya bisa menyaksikan langsung persiapan sebelum acara berlangsung serta semangat gotong royong warga yang luar biasa dalam menyambut acara besar tersebut. Saya benar-benar merasakan sendiri betapa kentalnya adat dan budaya Bali saat mengikuti berbagai kegiatan itu.

Selain merasakan budaya dan juga adat disitu, saya juga terjun langsung melaksanakan proker saya di bidang pendidikan, tepatnya di SD yang berada di Desa Takmung. Saat pertama kali masuk untuk mengajar saya sangat senang karena seluruh siswa sangat antusias kedatangan anak-anak KKN untuk belajar bersama. Saya mengajar kelas 5 dengan mata pelajaran matematika. Selama mengajar, semua murid sangat semangat dan antusias mengikuti pembelajaran yang saya adakan. Namun di sisi lain, hati saya tersentuh karena beberapa siswa masih kurang lancar dalam perkalian dasar, bahkan ada siswa yang belum bisa membaca. Sebelumnya, wali kelas 5 memang sudah memberi tahu saya bahwa ada satu anak yang mengalami kesulitan dalam membaca.

Hati saya merasa tersentuh terhadap anak tersebut yang kesusahan dalam membaca. Dalam pikiran saya pasti anak ini kesusahan ketika mengikuti pembelajaran karena belum bisa membaca. Namun, anak tersebut tidak patah semangat dalam kondisi yang dialaminya. Anak itu tetap semangat untuk belajar dan mengikuti rangkaian pembelajaran tanpa malu untuk meminta bantuan kepada saya dan rekan saya yang ada disitu. Di situlah saya dapat mengambil hikmah bahwa  keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus belajar dan berusaha, selama ada kemauan dan semangat pantang menyerah.

Pengalaman KKN di Desa Takmung, memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya, mulai dari indahnya kebersamaan dan gotong royong warga, kayanya adat dan budaya yang masih terjaga dengan sakral, hingga semangat anak-anak yang tak pernah padam meskipun memiliki keterbatasan. Semua itu mengajarkan saya untuk lebih bersyukur, lebih peka terhadap sesama, dan lebih menghargai proses dalam setiap perjalanan hidup. Semoga pengalaman ini terus menjadi bekal yang bermanfaat bagi saya pribadi maupun bagi masyarakat Desa Takmung yang telah menerima kami dengan begitu hangat.

Yogyakarta, 15 Agustus 2026

Titania Eka Wulandari Kusuma Astuty
Mahasiswa Program Studi Informatika UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-8

No Comments

Post a Comment