KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Media Sosial: Ruang Berbagi atau Ajang Membandingkan?

Opini: Media Sosial: Ruang Berbagi atau Ajang Membandingkan?

Saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap saat kita dapat melihat berbagai informasi, pengalaman, hingga pencapaian orang lain hanya melalui layar gawai. Semua ini bisa menjadi sumber inspirasi, tetapi tanpa disadari juga dapat mendorong kita untuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.

Salah satu contohnya terlihat dari tren “When Ya?”, yang biasanya digunakan seseorang ketika melihat sesuatu yang diinginkan atau pencapaian orang lain. Meskipun sering dianggap candaan, tren ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita melihat pencapaian orang lain sebagai sesuatu yang ingin kita capai juga.

Sebagai mahasiswa, hal semacam ini cukup sering terjadi. Masa perkuliahan dianggap sebagai waktu untuk mencari pengalaman dan mengembangkan diri: mulai dari mengikuti organisasi, kepanitiaan, lomba akademik maupun non-akademik, hingga kegiatan sosial. Ketika melihat seseorang membagikan pencapaiannya di media sosial, kita tentu merasa senang dan ikut termotivasi. Namun, di sisi lain, tidak jarang muncul rasa insecure karena merasa belum melakukan banyak hal.

Membandingkan diri sebenarnya hal yang manusiawi. Kita sering menjadikan kehidupan orang lain sebagai acuan untuk menilai perkembangan diri sendiri. Namun, jika perbandingan tersebut justru menimbulkan rasa rendah diri hanya karena belum mencapai hal yang sama, maka itu menjadi masalah. Apa yang kita lihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui proses panjang yang telah dilalui. Membandingkan keseluruhan hidup kita dengan potongan kecil yang ditampilkan orang lain tentu bukanlah perbandingan yang adil.

Setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang sudah mengetahui tujuan sejak awal, ada pula yang masih mencoba berbagai hal untuk menemukan jalan yang sesuai. Perbedaan tersebut bukan berarti seseorang lebih berhasil daripada yang lain, melainkan menunjukkan bahwa setiap orang memiliki porsinya masing-masing.

Oleh karena itu, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk mendapatkan motivasi. Ketika melihat pencapaian orang lain, jadikanlah itu inspirasi, bukan standar. Kita boleh merasa termotivasi tanpa merasa rendah diri. Kita boleh menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, tetapi tetap memahami bahwa waktu kita mungkin berbeda. Tidak perlu berhenti menggunakan media sosial, yang penting adalah belajar menggunakannya dengan lebih sadar.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah “When ya?”, melainkan “Apa yang sedang aku lakukan dengan waktuku sekarang?” Karena hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Ada kalanya kita berjalan, berhenti, mencoba lagi, bahkan mengambil jalan berbeda—dan itu tidak membuat perjalanan kita menjadi kurang berarti.

Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berbagi, bukan sekadar ajang membandingkan hidup. Kita boleh melihat perjalanan orang lain, tetapi jangan sampai lupa bahwa kita juga sedang menjalani perjalanan kita sendiri.

Yogyakarta, 3 September 2026

Valentina Cynthia Dyah Pitaloka
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2025
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10

Gambar oleh Erik Lucatero dari Pixabay

No Comments

Post a Comment