Coretan Mahasiswa: Belajar Menjadi Arsitek: Lebih Dari Sekadar Menggambar
Ketika mendengar kata “arsitek,” sebagian orang mungkin membayangkan seseorang yang duduk di depan laptop, menggambar denah, membuat model 3D, atau sibuk merevisi desain. Saya pun dulu memiliki pemikiran yang tidak jauh berbeda.
Sebagai mahasiswa arsitektur, menggambar dan mendesain memang menjadi bagian besar dari kehidupan perkuliahan. Kelas studio, revisi, presentasi, dan deadline sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, semester lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melihat sisi lain dari dunia arsitektur melalui program Magang Berdampak selama enam bulan di sebuah biro arsitek.
Pengalaman tersebut membuka mata saya bahwa menjadi arsitek bukan hanya tentang menggambar. Enam bulan berada di lingkungan biro membuat saya menyadari bahwa sebuah desain tidak berhenti ketika gambar selesai. Ada komunikasi, koordinasi, pertimbangan, revisi, deadline, dan berbagai hal kecil yang harus diperhatikan agar sebuah ide benar-benar bisa diwujudkan.
Apa yang selama ini saya pelajari di kampus ternyata hanya satu bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Menariknya, pengalaman magang tersebut saya jalani bersamaan dengan kelas studio berbeban 8 SKS dan program KKN Tematik. Tiga kegiatan dengan tuntutan berbeda berjalan dalam waktu yang sama. Di satu sisi saya belajar mengenai dunia profesional, sementara di sisi lain tugas sebagai mahasiswa tetap harus diselesaikan.
Ada masanya ketika saya merasa 24 jam sehari tidak cukup. Pagi hingga sore beraktivitas di biro, malamnya masih harus mengerjakan tugas perkuliahan, ditambah kegiatan KKN, bimbingan, serta tanggung jawab lain yang tidak bisa ditinggalkan. Awalnya saya mengira tantangan terbesar adalah bagaimana menyelesaikan semuanya, tetapi ternyata bukan itu. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjalani semuanya tanpa kehilangan diri sendiri.
Saya belajar bahwa bekerja keras bukan berarti harus memaksakan diri. Tidak semua pekerjaan harus selesai dengan sempurna dalam satu waktu. Ada kalanya kita harus menentukan prioritas, mengatur tenaga, dan menerima bahwa kemampuan kita memiliki batas.
Enam bulan tersebut akhirnya tidak hanya mengajarkan saya tentang dunia kerja arsitektur. Saya belajar tentang tanggung jawab, komunikasi, serta bahwa sebuah desain yang baik tidak lahir hanya dari kemampuan menggambar, tetapi juga dari kemampuan mendengarkan, memahami, bekerja sama, dan mempertanggungjawabkan keputusan. Yang paling penting, saya belajar tentang diri saya sendiri.
Sebelum mengikuti program magang, saya melihat kesibukan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan—semakin banyak yang bisa dikerjakan, semakin baik. Namun setelah menjalaninya, saya memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling sibuk. Terkadang kita perlu berhenti sejenak, bernafas, dan memberi ruang bagi diri sendiri.
Gambar oleh Haer Briezh dari Pixabay











No Comments