Kisah Penerima Beasiswa: Skripsi: Ujian Ketahanan Mental
Perjalanan menyelesaikan skripsi bukan hanya soal penelitian dan angka, tetapi juga tentang bertahan di tengah tekanan yang datang silih berganti. Saya memulai proses ini dengan penuh semangat, membayangkan semuanya akan berjalan sesuai rencana. Namun, realitas berkata lain. Revisi yang tak kunjung selesai, data yang harus diolah berulang kali, hingga rasa ragu terhadap kemampuan diri sendiri menjadi bagian dari hari-hari yang harus saya lalui. Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa skripsi bukan sekadar tugas akademik, melainkan ujian ketahanan mental.
Di tengah proses tersebut, saya juga menjalani peran sebagai seorang pekerja. Membagi waktu antara tanggung jawab pekerjaan dan skripsi bukan hal yang mudah. Ada hari-hari di mana energi terasa habis sebelum malam tiba, tetapi revisi masih menunggu untuk dikerjakan. Saya harus belajar mengatur prioritas, menahan lelah, dan tetap disiplin meskipun motivasi sering naik turun. Kadang saya merasa tertinggal dibanding teman-teman lain, tetapi saya terus mengingatkan diri bahwa setiap orang memiliki ritmenya masing-masing.
Tidak jarang saya berada di titik jenuh, bahkan sempat mempertanyakan pilihan yang saya ambil. Rasa ingin menyerah muncul, terutama ketika hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan usaha yang telah diberikan. Namun, dukungan dari orang-orang terdekat menjadi penguat yang tidak tergantikan. Mereka mengingatkan bahwa perjalanan ini akan membawa saya pada satu garis akhir yang sama, yaitu kelulusan. Dari situ, saya belajar bahwa proses ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang bagaimana saya bertumbuh sebagai individu.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan pola dan cara kerja yang lebih efektif. Saya belajar untuk tidak menunda, memanfaatkan waktu sekecil apa pun, dan menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Skripsi yang awalnya terasa sangat berat perlahan mulai menunjukkan titik terang. Setiap revisi yang terselesaikan menjadi langkah kecil yang membawa saya lebih dekat ke tujuan. Saya juga belajar untuk lebih menghargai diri sendiri atas setiap progres yang dicapai, sekecil apa pun itu.
Kini, ketika saya melihat kembali perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa semua lika-liku yang saya alami telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. Skripsi bukan lagi sekadar tugas akhir, tetapi simbol dari perjuangan, kesabaran, dan ketekunan. Bekerja sambil menyelesaikan skripsi mengajarkan saya arti tanggung jawab yang sesungguhnya. Pada akhirnya, saya percaya bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.



Yogyakarta, 16 April 2026
Avrilla Putri Indraprasta
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2022
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-7











No Comments