Coretan Mahasiswa: Belajar Dari Jalan Yang Berbelok
Ada masa ketika saya membayangkan hidup sebagai mahasiswa akan berjalan seperti garis lurus: masuk kuliah, mengerjakan tugas tepat waktu, lulus dalam empat tahun, lalu bekerja. Rencana itu terasa rapi di kepala, seperti jadwal kuliah yang tersusun di KRS. Namun, semester demi semester berjalan, saya sadar bahwa hidup tidak pernah benar-benar mengikuti garis yang saya gambar sendiri.
Semester kedua menjadi titik pertama retaknya rencana tersebut. Nilai salah satu mata kuliah wajib jatuh jauh dari harapan, bukan karena saya tidak belajar, melainkan karena saya belajar dengan cara yang keliru: menghafal tanpa memahami, mengejar tenggat tanpa benar-benar menyerap materi. Saat itu saya merasa gagal dalam arti yang sangat personal, seolah nilai di transkrip adalah cermin dari seberapa berharga diri saya. Butuh waktu cukup lama untuk menyadari bahwa kegagalan kecil semacam itu bukan akhir dari cerita, melainkan bagian dari proses saya mengenal diri sendiri.
Saya mulai bertanya ulang: apa yang sebenarnya saya cari dari bangku kuliah ini? Jika jawabannya hanya angka, maka setiap kegagalan akan terasa seperti kehancuran total. Namun, jika jawabannya adalah proses menjadi manusia yang lebih utuh, maka kegagalan hanyalah satu dari banyak langkah yang perlu dilalui.
Perlahan saya mengisi hari-hari kuliah dengan hal-hal di luar kelas: organisasi kemahasiswaan, kerja sukarela, hingga obrolan panjang dengan teman-teman yang memiliki latar belakang berbeda. Dari sana saya belajar hal-hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah: bagaimana mendengarkan orang lain dengan sabar, menerima kritik tanpa merasa direndahkan, serta bangkit kembali setelah rencana berantakan karena hal-hal di luar kendali saya.
Ada satu momen yang masih saya ingat jelas. Suatu malam, setelah gagal dalam seleksi organisasi yang sangat saya inginkan, saya duduk sendirian di kos, memandangi layar laptop yang menampilkan pengumuman itu berulang-ulang, seolah dengan membacanya lagi hasilnya akan berubah. Seorang teman kemudian mengirim pesan singkat: “Kamu nggak gagal jadi orang baik, kamu cuma belum diterima di satu tempat.” Kalimat sederhana itu mengubah cara saya memandang kegagalan sejak saat itu—bukan sebagai vonis, melainkan sebagai informasi tentang arah mana yang mungkin bukan untuk saya, sekaligus dorongan untuk mencari arah lain.
Kini, menjelang semester-semester akhir, saya melihat ke belakang dan menyadari bahwa perjalanan kuliah penuh dengan jalan buntu, putar balik, dan rute baru. Justru di situlah saya belajar paling banyak—bukan dari rencana yang berjalan mulus, melainkan dari cara saya menyusun ulang diri setiap kali rencana gagal. Menjadi mahasiswa, bagi saya sekarang, bukan soal seberapa lurus jalan yang ditempuh, melainkan seberapa jujur kita mau mengakui saat jalan itu berbelok, dan seberapa berani kita melangkah lagi meski arah tujuannya belum sepenuhnya jelas.
Tulisan ini bukan sekadar catatan pribadi, melainkan undangan untuk merenung bersama. Setiap orang punya jalannya sendiri, dengan belokan dan jalan buntu yang unik. Jika kamu sedang berada di titik di mana rencana terasa berantakan, ingatlah: kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang lebih utuh. Semoga refleksi ini bisa menjadi pengingat kecil bahwa keberanian untuk melangkah lagi, meski arah belum jelas, adalah bagian terpenting dari perjalanan kita.
Gambar oleh Leroy Skalstad dari Pixabay











No Comments