KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Menembus Batas Budaya, Refleksi Dari International Cross Cultural Day  

Kisah Penerima Beasiswa: Menembus Batas Budaya, Refleksi Dari International Cross Cultural Day  

Perkenalkan, saya Gordon Calcarine Samosir dari Program Studi Akuntansi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebagai mahasiswa yang bukan berasal dari jurusan Ilmu Komunikasi dan sama sekali belum pernah berinteraksi dengan orang asing sebelumnya, berada di lingkungan yang menuntut interaksi lintas budaya terasa cukup mendebarkan. Bagi mereka yang terbiasa mempelajari komunikasi, menyapa dan membangun obrolan mungkin hal yang biasa. Namun bagi saya, melangkah keluar dari zona nyaman membutuhkan keberanian ekstra dan kesiapan mental yang tidak sederhana.  

Meskipun diwarnai keraguan, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan menjadi bagian dari kepanitiaan International Cross Cultural Day yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Lippo Plaza Jogja. Sebuah keputusan sederhana yang ternyata mengubah cara pandang saya tentang dunia. Keputusan ini bukan hanya sekadar ikut serta dalam sebuah acara, melainkan juga menjadi langkah awal untuk membuka diri terhadap pengalaman baru. Saya menyadari bahwa kesempatan ini dapat menjadi jembatan untuk belajar hal-hal yang tidak pernah saya temui di ruang kuliah.  

Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa. International Cross Cultural Day menjadi wadah bertemunya berbagai kebudayaan dari belahan dunia. Booth budaya hadir dari beberapa negara, antara lain Afrika, Myanmar, Bangladesh, Pakistan, Jepang, Jerman, Timor Leste, Prancis, hingga Amerika Serikat. Setiap booth menghadirkan ciri khas masing-masing negara, mulai dari kuliner, pakaian tradisional, hingga seni pertunjukan. Kehadiran beragam budaya ini membuat suasana acara terasa hidup dan penuh warna, seolah-olah dunia sedang berkumpul dalam satu ruangan.  

Sebagai panitia, saya berkesempatan ikut merancang konsep kegiatan secara keseluruhan, mulai dari alur jalannya acara hingga memikirkan bagaimana pesan kebersamaan dan keberagaman dapat tersampaikan secara menyenangkan kepada para peserta. Tugas ini menuntut saya untuk berpikir kreatif sekaligus realistis agar acara berjalan lancar. Saya juga terlibat dalam merencanakan perlombaan yang dirancang untuk mempererat interaksi antara mahasiswa lokal dan mahasiswa internasional. Melalui perlombaan tersebut, kami berharap tercipta suasana yang akrab sehingga peserta dari berbagai latar belakang dapat merasa nyaman berbaur.  

Awalnya, keraguan sempat muncul: Apakah konsep acara dan perlombaan yang kami rancang cukup menarik bagi mahasiswa asing? Apakah mereka bisa menikmati dan memahami jalannya lomba? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya dan membuat saya merasa tidak yakin. Namun di antara semua kekhawatiran itu, satu hal yang paling saya takuti adalah bagaimana memberikan kesan pertama ketika berinteraksi dengan mahasiswa asing, mengingat keterbatasan kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris saya. Ketakutan ini terasa begitu nyata, seolah menjadi penghalang besar yang harus saya hadapi.  

Rasa takut itu benar-benar diuji ketika hari pelaksanaan tiba. Sebagai panitia yang bertugas mengarahkan jalannya acara, saya menyadari bahwa saya tidak bisa terus bersembunyi di balik kekhawatiran. Dengan menarik napas panjang dan menyunggingkan senyum sederhana, saya memberanikan diri menyapa mereka terlebih dahulu. Langkah kecil itu ternyata menjadi pintu besar yang membuka pengalaman berharga. Saya belajar bahwa keberanian untuk memulai percakapan jauh lebih penting daripada kesempurnaan dalam berbahasa.  

Ternyata, ketakutan yang selama ini menumpuk hilang begitu saja. Senyuman hangat dan antusiasme mereka membuat suasana langsung mencair. Kecanggungan berubah menjadi obrolan yang mengalir tanpa henti, seolah-olah kami sudah lama berteman. Saya pun tidak ragu menceritakan budaya Indonesia, mulai dari kuliner, tradisi, hingga kehangatan masyarakatnya. Bermodal rasa ingin tahu dan keberanian untuk berinteraksi, saya akhirnya memiliki banyak teman baru dari berbagai negara.  

Pengalaman ini membuka pikiran saya bahwa berinteraksi dengan orang asing lintas negara tidak menuntut kita untuk mahir berkomunikasi atau memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sempurna. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menyapa dan sikap terbuka untuk mendengarkan. Dari yang awalnya takut memulai percakapan, saya perlahan menemukan kenyamanan dalam mengobrol dan bahkan menjalin pertemanan baru yang melintasi batas negara dan bahasa. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa komunikasi sejati lahir dari niat tulus untuk memahami, bukan dari kemampuan teknis semata.  

Refleksi  
Menjadi panitia International Cross Cultural Day memberi saya pelajaran penting bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang kuliah. Belajar juga terjadi saat kita berani melangkah ke lingkungan baru yang asing dan menantang. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa dunia jauh lebih luas daripada yang saya bayangkan, dan setiap interaksi lintas budaya membuka pintu wawasan baru.  

Melalui interaksi dengan mahasiswa asing, saya menyadari betapa banyak sudut budaya yang belum saya eksplorasi. Keterbatasan bahasa bukanlah alasan untuk menutup diri. Justru dengan keberanian menceritakan keunikan budaya sendiri, kita dapat membangun jembatan pertemanan lintas negara sekaligus memperoleh pemahaman baru tentang cara pandang orang lain. Saya belajar bahwa setiap percakapan, sekecil apa pun, dapat menjadi pengalaman berharga yang memperkaya diri.

Bagi saya, acara ini bukan hanya tentang menyusun alur kegiatan dan lomba, melainkan tentang proses pendewasaan diri. Saya belajar bahwa untuk bertumbuh, kita tidak perlu menunggu sampai hebat terlebih dahulu. Kita hanya perlu berani mengambil kesempatan, mengalahkan rasa takut, dan menikmati setiap proses belajar yang ada. Dengan begitu, setiap langkah kecil yang kita ambil akan menjadi bagian dari perjalanan besar menuju kedewasaan dan pemahaman yang lebih luas tentang dunia.  


Yogyakarta, 7 Oktober 2026

Gordon Calcarine Samosir
Mahasiswa Program Studi Akuntansi UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9

No Comments

Post a Comment